Perencanaan Alinyemen Vertikal

Menurut Sukirman (1999), alinyemen vertikal adalah perpotongan bidang vertikal dengan bidang permukaan perkerasan jalan melalui sumbu jalan untuk jalan 2 jalur 2 arah, atau melalui tepi dalam masing-masing perkerasan untuk jalan dengan median. Alinyemen vertikal disebut juga penampang memanjang jalan, yang terdiri dari garis-garis lurus dan garis-garis lengkung.

Merencanakan penampang jalan merupakan salah satu bagian dari perencanaan geometrik jalan. Tentu saja dituntut dengan persyaratan aman dan ekonomis. Selain itu, perencanaan alinyemen vertikal harus selalu mempertimbangkan kondisi lapisan tanah dasar, tinggi muka air banjir, tinggi muka air tanah, fungsi jalan, kelandaian, dan keadaan medan. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan alinyemen vertikal (penampang memanjang) suatu jalan raya adalah sebagai berikut:Muka jalan rencana yang paling ekonomis adalah muka jalan yang mengikuti kontur muka tanah, sehingga tidak banyak terdapat galian dan timbunan yang menghabiskan dana yang besar. Tetapi hal ini sangat jarang ditemukan di lapangan. Karena mustahil merencanakan penampang jalan memanjang dengan mengutamakan tanah yang datar. Oleh karena itu, sebaiknya muka jalan berada lebih tinggi dari muka tanah dasar, agar memudahkan pekerjaan drainase. Untuk daerah yang sering banjir, muka jalan sebaiknya direncanakan diatas elevasi banjir (Sukirman, 1999). Tujuannya agar jalan tidak terendam air pada saat banjir, sehingga keawetan jalan terjaga.

Pada alinyemen vertikal tentu saja terdapat tanjakan dan turunan. Tanjakan dan turunan ini membentuk lengkung vertikal cekung dan lengkung vertikal cembung. Lengkung vertikal cekung terbentuk apabila titik lengkung berada di muka jalan, sedangkan lengkung vertikal cembung terbentuk apabila titik lengkung berada diatas permukaan jalan rencana. Letak lengkung vertikal baik cekung maupun cembung harus sangat diperhatikan. Kedua lengkung ini sebaiknya tidak terletak pada tikungan.

Bagikan Halaman / Postingan ini :